Home

Pengantar Redaksi: Tulisan ini adalah pemenang pertama Jakartabeat Music Writing Contest I yang baru lalu. Selamat membaca!

Itu kalimat pembuka dari artikel yang tiga hari lalu saya baca. Artikel apa? Ini

Saya sudah lumayan lama mengikuti tulisan-tulisan di laman Jakarta Beat. Sejauh ini, kualitas tulisan yang terpampang disana cukup bagus. Dan ketika membaca pengantar seperti itu (saya juga cukup lama absen, jadi tidak tahu kalau mereka menyelenggarakan Writing Contest), adalah wajar kalau ekspektasi lebih dulu terpancang tinggi.

Dan saya pun membacanya.

Reaksi pertama saya setelah selesai adalah: capek. Jujur, saya sudah lama tidak baca artikel sepanjang dan sekusut itu. Karena selain panjang, artikel itu juga berputar-putar tidak karuan. Bayangkan perjalanan dari Jakarta menuju Bandung yang mengambil rute Jakarta – Merak – Bakaheuni dan berakhir di Aceh, bukan di Bandung. Tujuan akhirnya tidak tercapai.

Artikel itu dibuka dengan kalimat “Tujuh orang pemuda, menyanyi dan menari dengan hiperaktif dalam balutan celana ketat dan kaus berkerah seperti kerah Sabrina (entah apa namanya pokoknya sangat lebar sampai Anda pusing). Membuat Anda bertanya-tanya, siapakah mereka? Apa yang mereka lakukan? Mengapa mereka berbuat demikian? Apakah semasa kecil mereka tidak divaksin lengkap?” dan ditutup dengan “Maju terus musik alay Indonesia!”. Kening saya berkerut.

Apa yang coba disampaikan oleh penulis?

Saya mengapresiasi usaha penulis dalam menggolongkan musik alay kedalam 7 kategori kausal dan gaya bahasa ringan yang digunakannya. Tapi ya itu, hanya berhenti disitu saja. Semierectuskentangus, setengah ngaceng lalu terputus. Tidak ada pendalaman materi dan riset lebih jauh tentang fenomena sosial ini. Penulis memutuskan untuk membuat sebuah karya analisis yang berdasarkan fakta, tapi argumennya tidak kuat. Lain halnya kalau ini karya fiksi, mungkin saya bisa ikut tertawa seperti mayoritas pengunjung laman yang mengomentari tulisan itu. Analisis butuh fondasi yang lebih kokoh dari sekedar deretan sarkasme gagal. Hingga selesai membaca dang mengulangi satu putaran lagi, saya tetap belum menemukan jawaban dari pertanyaan diatas. Tanda tanya lain yang justru mengemuka: atau justru sang penulis ingin berlindung dari hujatan massal dengan balik memuji musik alay (yang apapun artinya itu)?

Pada akhirnya jari telunjuk saya tetap mengarah ke juri yang mendaulat hasil karya itu menjadi kampiun kontes menulis. Mengutip salah satu komentator, “apa mungkin tidak ada tulisan yang lebih baik? para juri hanya mengandalkan “sistematika” dan bahasa yang “menghibur” saja?”.

Miskin substansi, nihil penetrasi dan jauh panggang dari ejakulasi.

“Kenapa hatiku cenat cenut tiap ada jembus wedhut

You know me so well”

Advertisements

2 thoughts on “C*nat C*nut J*mbus W*dhut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s