Home

Ini konser pertama yang saya datangi di 2011, setelah JRL yang dihelat tiga hari berturut-turut di akhir 2010 lalu cukup menguras stamina dan saldo rekening. Jeda tiga bulan dirasa cukup untuk memulihkan tenaga dan finansial. Maka berangkatlah saya ke Tennis Indoor, Senayan, malam itu dengan niat menunaikan ibadah manasik nu metal.

Pertama mengenal Deftones di medio 1999 melalui “7 Words”, band ini cukup menginspirasi. Masuk ke tahun berikutnya, mereka merilis “White Pony”. Album itu saya beli di sebuah toko kaset yang lumayan ‘bawah tanah’ di area Malioboro, Jogja. Instan menjadi rilisan favorit dan termasuk ke dalam album yang hampir tiap hari didengarkan. Sejak itu saya mulai mengoleksi album-album mereka.

Setelah menanti kurang lebih 12 tahun lamanya, saya pun beranjak menuju venue dengan ekspektasi tinggi. Berkaca dari rekaman penampilan live mereka sih sepertinya tidak bakal mengecewakan. Tiket ditebus di menit-menit akhir jelang pertunjukan. Kelas festival dipilih agar lebih buas bertindak seruntulan. Beberapa kawan seiman sudah tampak berkeliaran di seputar kawasan. Sebentar lagi show akan dimulai.

Setengah jam sebelum pertunjukan, saya masuk ke dalam gedung. Demografi penonton malam itu didominasi oleh perawakan usia tanggung. Remaja bukan, paruh baya juga belum. Setengah muda mungkin istilah yang tepat.

Photo courtesy of BL_Racing Team, Kaskus

Tembang “Birthmark” dipilih sebagai tabuhan genderang awal tanda dimulainya pesta. Saya memilih untuk melontarkan diri ke moshpit. Maklum, sudah lama tidak begajulan. Lagu pertama, kedua, ketiga, saya masih ugal-ugalan. Tendang sana, tabrak sini,  sikut situ. Tepat di lagu keempat, “My Own Summer (Shove It)”, saya terkapar. Sebuah siku telak mendarat di wajah, sekuat tenaga menghantam hidung. Saya memilih mundur untuk jeda mengambil nafas sekaligus mengirimkan beberapa reportase personal via twitter.

Ekspektasi saya tidak meleset. Deftones bermain prima. Grafik konstan terjaga ketat dari awal hingga akhir. Hanya pengaturan susunan lagu yang memberi mereka sela untuk rehat. Sound gitar Stephen Carpenter terdengar berat, renyah dan tebal. Sang suksesor Chi Cheng, Sergio Vega, berperan sebagai deputi yang baik malam itu. Abe Cunningham membentuk lekuk-lekuk irama tanggung yang mengajak kerumunan bergerak canggung. Frank Delgado adalah mantri yang memberi asupan bebunyian tambahan dari balik perangkat turntables dan komputer jinjingnya. Lalu apa yang harus ditulis tentang Chino Moreno? Dia adalah Mariah Carey versi nu metal. Nada tinggi mantap didaki lalu dalam sekejap gagah mendesah turun ke nada rendah. Berteriak, merintih, bergumam, dan hampir tiada henti menandak-nandak di sepanjang pertunjukan.

Photo courtesy of Adia Prabowo

Tampaknya Deftones sepakat menggelar formasi 4-4-4 dalam susunan repertoarnya. 4 lagu dari tiap album mulai dari Adrenaline hingga Diamond Eyes. Saya masih di belakang kerumunan saat tembang-tembang andalan yang memanjakan penggemar lama seperti “Knife Party”, “Digital Bath”, “Engine #9” dan “Lhabia” dibawakan.  Lalu tibalah momen spesial nan emosional itu.

Pertama, “Change (In the House of Flies)” berkumandang. Getar gembira menjalar ke seluruh tubuh. Ini salah satu tembang favorit saya dari kantung “White Pony”. Tentu saja saya ikut bersuara lantang sembari mata mulai berkaca-kaca. Kelar “Change..”, pengeras suara mengeluarkan intro lain yang tidak kalah familiar, “Passenger”! Selesai sudah disitu. Penetrasi kian mendekati ejakulasi. Tanggul jebol tidak kuasa menahan luapan emosi. Status berganti dari berkaca-kaca ke meneteskan airmata. Karena bahagia, tentu saja. Tembang “Passenger” itu menduduki puncak tahta favorit di katalog Deftones.

Photo courtesy of Adia Prabowo

Pertunjukan mendekati akhir. Strategi andalan silam sejenak sedang dijalankan. Tidak butuh waktu lama, panggung kembali terisi. Kali ini Stephen menyayat senar gitarnya membentuk jalinan intro legendaris, “Root”. Moshpit kembali bergolak dan saya kembali mencemplungkan diri disitu. Manasik ini harus dikhatamkan. Dan apa tembang selain “7 Words” yang pantas untuk menutup acara?

Pesta pun rampung. Satu band favorit selesai disaksikan, ratusan lainnya masih menunggu.

After show

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Manasik Nu Metal Bersama Deftones

  1. hehe, thanx gan :beer: 😀

    Makanya gue agak nyesel juga, apalagi setelah idung jadi agak gempor kena hajar hehe. But it was fun! Next, Stone Temple Pilots? 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s