Home

Misuh dalam bahasa Jawa kurang lebih berarti mengumpat. Tentu saja yang digunakan adalah kata-kata kotor, yang terbentang luas mulai dari ras binatang hingga anatomi tubuh. Misuh terkadang adalah paradoks. Bisa digunakan saat sedang marah atau kesal, pun kerap terlontar ketika hati sedang luar biasa senang.

Beberapa waktu terakhir, saya menemukan satu terapi baru yang menggunakan misuh sebagai medium pelepas beban hati. Bersama seorang teman, sebut saja namanya Si Kaos Kaki Neraka, kami kerap misuh-misuh dan saling bertukar umpatan di kantor usai jam kerja. Kata-kata yang terlontar pun luar biasa joroknya. Dan dengan volume yang tidak bisa dibilang pelan tentu saja. Orang awam yang melihat kami sedang melakukan terapi ini pasti spontan mengernyitkan dahi. Kemungkinan terbesarnya adalah kami bakal dicap gila.  

Tapi disitulah letak indahnya. Setiap kali habis misuh, kami merasa begitu lega. Seolah beban yang tadinya menghimpit menjadi lepas terurai bersamaan dengan kata kotor yang meluncur keluar. Menyenangkan walau terdengar menjijikkan. Melapangkan dada dan menambah dosa di saat yang bersamaan.  

Walau menurut agama saya kalau misuh itu pasti akan berbuah pada dosa, saya sama sekali tidak keberatan menambah sedikit jumlah saldo di bank dosa saya. Lagipula saya yakin malaikat juga tahu kalau saya misuh demi kebaikan. Tertarik mencoba? 😀

 

26 Januari 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s