Home

Kota tua yang usang dan membosankan, itu impresi awal saya akan Solo saat pertama tinggal di Solo untuk kuliah, 11 tahun silam. Adalah wajar ketika 18 tahun di hidup saya dihabiskan di kota di tepian Jakarta lalu pindah ke kota seperti Solo yang di segala lininya berbanding njempalik 180 derajat dengan kota tempat tinggal saya sebelumnya. Gegar budaya instan tercipta.

Awalnya proses adaptasi berlangsung alot. Enam bulan pertama didominasi perasaan homesick. Hampir semua hal yang saya gemari sukar ditemukan di Solo. Mau beli buku harus ke Jogja dulu, film-film terbaru selalu tayang telat di bioskop dan lebih gampang menemukan jarum di tumpukan jerami ketimbang mencari album dari musisi favorit saya di toko kaset/CD. Belum lagi perbedaan pola pikir dengan gadis-gadis di kota ini yang bermuara pada sulitnya merajut asmara. Asu, malah curhat. Maaf.

Okay, kembali ke topik bahasan. Dua tahun pertama saya di Solo itu serupa neraka. Sehari rasanya seperti 24 jam, seminggu rasanya seperti 7 hari dan sebulan rasanya seperti 30 hari walau kadang-kadang terasa seperti 31, 28 dan 29 hari juga. Jarum jam seakan berjalan lambat sekali, padahal saya pakai jam digital. Hingga akhirnya kalender menunjukkan tanggal 28 Mei 2004, salah satu hari Jumat terbaik di hidup saya, meski saya jarang solat Jumat. Kenapa? Karena di hari itu saya berkenalan dengan Rock In Solo.

Saya masih mengingat malam itu dengan jelas. Malam yang panas di GOR Manahan. Kalau wujud dari surga adalah sebuah gelanggang olahraga yang pengap oleh asap rokok dari lelaki-lelaki gondrong berambut hitam dan ber-tattoo yang saling menabrakkan dirinya dalam sebuah ritual purba merayakan distorsi yang keluar dari amplifier, maka malam itu pastilah saya diberi free pass oleh malaikat Ridwan untuk sejenak masuk ke ruangan di balik pintu yang dijaganya.

Sembilan tahun sudah berlalu sejak Rock In Solo pertama selesai dihelat. Tanpa terasa tujuh edisi sudah berlalu. Dari yang awalnya berstatus sebagai penonton, kini saya masuk di lingkaran dalam. Semua bermula di tahun 2011. Saat itu saya sudah meninggalkan Solo ketika Ayah saya berpulang, menyusul mendiang Ibu yang sudah lebih dulu menemui Elvis –idolanya sepanjang masa- empat tahun berselang. Sebagai anak tunggal, saya mendapat status baru sebagai anak yatim piatu. Gamang menatap masa depan, saya memutuskan untuk meninggalkan rumah untuk kembali ke kota yang sudah menganggap saya sebagai anak haramnya: Solo.

Lalu di suatu sore yang cerah berawan, saya sedang ngobrol-ngobrol dengan Stephanus Adji, salah satu penggagas yang kini diberi label Ketua Dewan Syuro di Rock In Solo. Topik obrolan kami sore itu adalah keputusan Adji yang tidak ingin meninggalkan Solo untuk berkarir demi Rupiah. Saya menanyakan alasannya. Dia menjawab tegas, “aku mau membangun kota kelahiranku. Anak-anak muda di sini banyak yang tidak peduli dengan kotanya. Aku nggak mau jadi bagian sejarah dari mereka yang kalah dan tidak berbuat apa-apa.” Jawaban itu mengaduk emosi saya. Kalau saja Adji memiliki nama akhiran Teguh atau Desem Waringin, pasti dia sekarang sudah jadi motivator. Jadilah saya dibaptis sebagai Dewan Jenderal Rock In Solo.

Tahun ini menjadi kali ketiga saya berpartisipasi penuh di Rock In Solo dan menjadi bagian dari Dewan Jenderal setelah sebelumnya hanya menjadi penonton, peliput dan pekerja lepas. Satu hal yang saya sadari, Rock In Solo telah berevolusi menjadi sebuah bentuk yang bahkan tidak terpikirkan oleh para penggagasnya di awal. Dari sebuah pentas musik kecil berskala gedung olahraga menjadi festival tahunan yang dapat dinikmati di stadion dan alun-alun kota. Meski demikian, banyak hal dari para Dewan Jenderal yang tetap tidak berubah. Mayoritas dari kami masih tinggal di rumah sewaan, masih setia menggunakan motor bebek sebagai moda transportasi andalan dan masih harus jumpalitan tak kenal waktu untuk menutup biaya hidup bulanan. Andai Rock In Solo diaudit, passion adalah surplus yang tercetak di pembukuan kami.

IMG_3959edit

Dewan Jenderal adalah kata yang sengaja kami pilih karena kata ‘panitia’ terdengar terlalu Orde Baru di telinga kami. Jumlah Dewan Jenderal Rock In Solo tidak banyak, hanya beberapa orang saja. Sistem perekrutannya pun lebih mirip secret societies ketimbang ormas agama. Calon kader yang potensial tidak sadar kalau mereka sedang kami pantau. Hal berikutnya yang mereka tahu, mereka sudah menjadi bagian dari kami dan jika ingin lepas itu merupakan hil yang mustahal, meminjam istilah Presiden kedua RI, HM. Asmuni. Kami memang tidak terikat sumpah di bawah kitab suci, tetapi hati kami saling bertaut dalam sebuah simpul yang bernama Rock In Solo.

IMG_3990

Tahun depan Rock In Solo akan merayakan edisi kedelapan dalam sepuluh tahun eksistensinya. Bisa bertahan selama satu dekade merupakan sebuah milestone yang patut mendapat potongan tumpeng pertama. Apa rahasianya dapat bertahan selama ini?, tanya seorang jurnalis di press conference Rock In Solo 2013: New World Propaganda dua bulan silam. Tetap menjadi gila, jawab saya. Pikiran waras yang normal milik siapapun pasti akan keriput dan mundur teratur melihat hitung-hitungan akan persoalan yang kami hadapi. Bukan perkara enteng bisa menyelenggarakan Rock In Solo di tiap tahunnya. Resistensi dan halangan dari segala penjuru bertebaran di sepanjang jalan, menunggu kami lewat kemudian menjegalnya. Di sinilah kata gila tadi berperan. Darah muda kami masih menggelegak dengan temperatur tinggi, membuat semua hambatan tersebut menjadi bagian dari proses menyenangkan yang kami nikmati. Inilah asam-garam yang sedang kami kecap. “Karena Rock In Solo itu adalah sebuah kutukan,” tambah Adji. Kapan pun kami merasa lelah dan berpikir untuk menghentikan Rock In Solo, selalu muncul figur-figur baru yang menyuntikkan semangat dan menunjukkan kalau masih ada cahaya di akhir terowongan gelap ini. Kutukan itu belum patah.

1188

Tantangan terbesar kami justru kata ‘Solo’ di Rock In Solo itu sendiri. Di kota seperti Solo dimana kata ‘budaya’ masih kerap diasosiasikan sebagai cipta, rasa dan karsa yang berkonotasi kontemporer dan tradisional, membuat penyelenggaraan acara musik cadas menjadi seperti sosok anak tiri. Tidak diakui keberadaannya tapi selalu hadir dan mengganggu. Tidak tercantum di akta tapi tercatat di lembar sejarah. Dan sejarah itu sedang ditulis dengan pena bertinta darah, keringat dan air mata.

Kalau salah satu tugas dari Putra-Putri Solo adalah mewakili dan mempromosikan pariwisata kotanya, maka Dewan Jenderal RIS adalah putra-putri Solo tidak rupawan yang bertindak sebagai duta pariwisetan. Mengenalkan Solo dari sudut pandang berseberangan dengan gambar yang tercetak di brosur agen perjalanan. Kami adalah oposisi di sebelah kiri jalan yang di tiap tahunnya selalu setia menyediakan buah khuldi untuk membujuk-rayu para musafir metal untuk turun bergabung bersama kami untuk bersenang-senang di bumi Bengawan.

Semoga kami masih tetap belum waras dalam waktu dekat ini.

 

 

banner

Advertisements

3 thoughts on “Putra-Putri Solo Yang Tidak Rupawan

  1. Woww.. Keren banget tulisanya mas….
    Terharu akyu,, mlenyek atikyu mas,,,
    Salut buat seluruh Dewan jendral,, Putra Putri Solo yang tidak rupawan tp menawan
    Sukses terus buat Rock in Solo semoga tetep istiqomah

  2. salah satu mahasiswa saya ada yang kontestan itu juga sih, sebenernya gak cakep cakep amat tp kok yo pinter hehheeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s