Home

Saya menulis ini dalam keadaan takut. Semalam saya berangkat tidur diantar oleh berita mengenai kisruh pilpres di Victoria Park. Buat saya, insiden di Hongkong itu menakutkan. Beberapa kekhawatiran saya mengenai apa yang bakal terjadi di dan pasca tanggal 9 tervisualisasi dengan jelas di Hongkong. Sistem yang berlubang menjadi celah yang rentan untuk dimanipulasi sekaligus membuka lebar-lebar pintu provokasi. Kekacauan dapat dipicu hanya dengan satu jari, entah itu telunjuk yang teracung memberikan komando ataupun jempol yang menyentuh tanda ‘send tweet’.

Sejak riuh kampanye pilpres ini dimulai, saya sudah menentukan pilihan saya. Tidak seratus persen pro Jokowi tapi seratus persen kontra Prabowo. Saya tidak perlu memakai ijazah strata satu saya di Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik untuk mengetahui bahwa Jokowi tidak sejujur, semerakyat dan sesederhana itu. Begitu pula sebaliknya. Saya tidak yakin kalau Prabowo sejahat itu. Bisa saja dia jauh lebih jahat bukan? Saya tidak tahu juga. Yang jelas, ini politik, ada banyak kepentingan yang berseliweran.

Salah satu kepentingan yang berseliweran adalah kepentingan dalam skala personal. Saya meyakini kalau kepentingan pribadi adalah pondasi utama dalam menentukan pilihan. Entah itu pilihan untuk tidak mencoblos nomor satu, pilihan untuk mencoblos nomor dua atau pilihan untuk masuk ke bilik suara sambil membawa spidol hitam guna menambahkan kumis dan tahi lalat Rano Karno-esque di tiap muka calon. Saya tidak bermasalah dengan itu semua. Itu murni pilihanmu. Saya tidak punya kuasa untuk mencegah maupun merubahnya. Silahkan dijalani sesuka hatimu. Adalah kepentingan pribadi saya, yang salah satunya ialah keengganan untuk adanya kata Saudi di depan kata Indonesia, yang membuat saya mencoret nama Prabowo dari daftar coblos. Lagipula saya tidak berminat untuk terlihat jantan dan menjadi macan di Asia. Maaf, terima kasih.

Tapi kini saya merasa agak terganggu setelah beberapa kali membaca di ranah sosial media mengenai posisi politis seseorang yang dengan gamblang menyatakan kalau pilpres kali ini tidak berpengaruh ke dalam kehidupannya, suatu gangguan yang tidak saya rasakan sepanjang sejarah pilpres digelar di negara ini. Mungkin karena faktor U. Entahlah.

Secara langsung memang tidak, saya setuju dengan itu. Andai Jokowi menjadi presiden RI ketujuh pun, kehidupan kita tidak akan serta-merta berubah dalam satu jentikan jari. Kita masih harus tetap bekerja keras untuk mengecoh kejaran tagihan bulanan yang selalu saja berlari kencang. Tapi secara sistem, akan besar pengaruhnya. Contoh paling gampang saja: kalau bidang pekerjaanmu berada di sektor yang membutuhkan koneksi internet cepat, apa kamu tidak mau punya Menkominfo yang pintar?   

Dan sejak riuh kampanye pilpres ini dimulai hingga resmi berakhir, saya sudah mendengar beberapa omongan yang diarahkan ke punggung saya. Tudingan “ah, sok politis lo!” adalah stempel standar yang kerap dicapkan. Saya tidak keberatan, bahkan saya akan balas dengan senyuman. Senyum yang sama dengan senyum yang akan saya kembangkan lagi di kala orang-orang yang mencela saya itu mengeluh ketika kehidupan mereka berubah di masa depan karena mereka terlalu malas melakukan perubahan. 

Apakah saya takut kalau capres pilihan saya kalah? Tidak. Saya takut kalau Bhinneka Tunggal Ika hanya akan menjadi tulisan tanpa makna yang semata menjadi hiasan pengisi pita di kaki Garuda. Dan buat saya, saat ini adalah waktu yang tepat untuk menjadi sok politis.

Advertisements

2 thoughts on “Waktu Yang Tepat Untuk Menjadi Sok Politis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s