Home

Dulu waktu beranjak remaja dan sedang giat-giatnya mengumpulkan informasi soal musik dan tetek-bengeknya, ada hal-hal yang belum saya mengerti. Salah satunya adalah kenapa ada band yang bubar dengan alasan perbedaan visi dan misi. Alasan apa itu, beda visi-misi? Bukankah seharusnya sebuah band rock itu bubar karena masalah wanita dan narkoba? Tidak jantan sama sekali, cibir saya. Berpuluh tahun kemudian, saya akhirnya merasakannya sendiri.

Tapi saya sedang tidak bicara soal band, saya sedang bicara tentang Rock In Solo.

Di empat edisi terakhir Rock In Solo, saya intens bergabung di dalamnya. Bukan hal baru karena sejak 2009 saya sudah berada di lingkaran luar. Mulai 2011 saya mengemban tanggung jawab, yang menurut saya, berat. Menjadi corong Rock In Solo yang merilis info ke khalayak dan media massa. Saat itu saya memilih nama Media & Propaganda sebagai panji divisi yang saya kepalai.  Propaganda Relations Officer terdengar lebih enak di telinga saya. Kata ‘propaganda’ saya pilih dengan berhutang pada junjungan saya, Rudolf Dethu (tidak tahu siapa dia? Silahkan Googling, jangan malas) sebagai persona yang meresureksi kata ini di jazirah domestik menjadi lebih seksi dan berbahaya. Saya belum sempat memberitahunya secara pribadi, tapi andai Dethu membaca ini, terimalah rasa hormat dan terima kasih saya. I owe you big time, brother.

Saya yakin beberapa orang akan menilai surat ini berlebihan, klise atau bahkan tidak perlu. Silahkan menilai. Saya tidak perduli. Buat saya, baik itu Rock In Solo maupun surat ini, sama pentingnya.

Kenapa penting? Saya sedang limbung saat pertama bergabung. Nihil semangat dan minus tekad. Sedang tidak ingin ngapa-ngapain. Rock In Solo mengembalikan saya ke jalur. Rock In Solo memberi saya arti. Ada sesuatu yang diperjuangkan di sini, bukan hanya sekedar menyelenggarakan event musikal tahunan. Saya belajar banyak hal di Rock In Solo. Hal-hal yang tidak masuk di kurikulum pendidikan normatif. Hal-hal yang didapatkan secara jalanan, bukan diterima di bangku sekolahan. Rock In Solo adalah universitas tanpa ijazah, sebuah kampus dinamis berkuliah kerja nyata dengan mata kuliah sebanyak 666 SKS. University of hard knocks.

Sekali lagi, Rock In Solo bukan hanya sekedar event musikal tahunan yang diselenggarakan di suatu tempat yang hanya menampilkan band-band mancanegara dan domestik. Rock In Solo jauh lebih dari itu. Rock In Solo mewakili mimpi-mimpi utopis yang sebelumnya hanya ada di koridor khayalan dan akhirnya bisa diwujudkan dengan resep semangat sesuai selera yang dicampur tiga perempat kerja keras lalu ditiriskan dan dihidangkan dengan kebanggaan secukupnya. Rock In Solo adalah manifestasi sucker punch. Kolektif ceking di kota kecil yang tidak masuk hitungan di atas ring tapi bisa bertahan lebih dari sekian ronde sembari sesekali terseok bertahan namun konstan telak memberi pukulan-pukulan balik yang menyudutkan.

Saya tidak pernah menganggap diri saya bekerja untuk Rock In Solo, saya memposisikan diri saya untuk belajar dan berkarya. Hitungan nominal tidak pernah jadi yang utama. Gaji terbesar yang pernah saya terima dari Rock In Solo berwujud senyum bahagia penonton pasca acara dan kepalan-kepalan penuh bara yang meninju udara dari moshpit tempat mereka sedang menikmati penampil idolanya. Tidak ada dalam sepuluh tahun sejarah berlangsungnya Rock In Solo, mereka yang membantu event ini hanya berdasarkan iming-iming Rupiah. Tulus sudah jauh mengalir lama di nadi yang menggerakkan denyut Rock In Solo sebelum kini lebih dikenal sebagai nama seorang solois pria. Kalau slogan keringat, darah dan air mata bisa disubstitusi ke dalam tiga kata yang lebih singkat, itu adalah Rock, In dan Solo. Dan saya bangga pernah menjadi bagian di dalamnya. 

Lalu tibalah hari di mana semua itu berakhir sudah. Saya sampai di jalan yang berlainan arah.  Mimpi-mimpi kami sudah tidak sejalan lagi. Saya tersenyum sembari mengingat hari di mana saya mempertanyakan makna perbedaan visi-misi sebagai alasan perpisahan. Saya harus memilih dan pilihan saya sudah jelas. Semua rasa lelah dan gelisah, perselisihan, pertukaran umpatan, bentrok isi pikiran menjelang hari H dan rasa lega serta sorak gembira pasca acara kini menjadi kenangan. Tidak ada lagi itu semua buat saya.

Kalau Rock In Solo adalah sebuah keluarga besar yang tinggal bersama di satu atap, saya kini adalah sepupu jauh yang memutuskan untuk merantau ke destinasi yang berbeda. Keluarga dan rumah itu, buat saya, tetap ada. Mungkin saya akan datang berkunjung di tiap hari raya sembari bertukar canda dengan kolega sembari menyambung ukhuwah metaliyah.

Sejarah memang belum selesai ditulis, tapi peran saya sudah usai.

For those about to rock, i salute you. But for me now, it’s better to burn out than fade away.

Best of luck to us all,

Cheers!

* Sebuah karya terakhir dari divisi Media & Propaganda Rock In Solo yang saya kepalai, untuk merayakan satu dekade RIS. Video ini diputar di layar panggung, tepat sebelum Carcass tampil sebagai pemuncak di Rock In Solo: Decade Of Rebellion satu tahun silam. Bakti terakhir saya untuk Rock In Solo. 

Advertisements

8 thoughts on “SEJARAH SUDAH SELESAI DITULIS: Sebuah Surat Perpisahan Untuk Rock In Solo

  1. sedih setelah membacanya…
    kenapa harus jalan berbeda arah, saya yakin kamu sudah menimbang dengan matang. saya tak bisa bertepuk tangan atas keputusanmu.

    tapi ada satu-dua kalimat yang aku garis bawahi. ternyata kamu tak butuh bayaran apa-apa selain senyum tawa kepuasan orang lain atas kerja dan karyamu.npiye yen kowe dak angkat dari propagandis neng RBI??? aku sangat bisa jamin memberimu senyum dan tepuk tangan kegirangan.

    piye, Bol? pertimbangkan baik-baik tawaranku, ya… #serius

    • Ini tawaran paling luar biasa. Tak terima, Dhe. Mulai kerja kapan?

      ..sek, ini aku satu kantor sama pak JK kan ya?
      😁😁😁

  2. We know life can be hard sometimes and everything happens for a reason 🙂

    Bahkan seringkali hidup menghadiahkan kepada kita, yaitu saat di mana kita harus membuat keputusan yang tidak mudah.
    Dan tidak seorangpun di dunia ini lahir dengan kemampuan mengambil keputusan yang baik. Itu adalah kemampuan yang harus dipelajari dan diperkuat dengan sering menghadapi suatu masalah yang menantang (memiliki masalah dalam hidup tidak selalu buruk, kan?).

    Terimakasih sudah memberikan RIS 2011 dan RIS 2013 buat saya dan teman-teman lainnya, meskipun saya adalah bisa dikatakan kaum awam pecinta musik cadas ini, angkat topi atas kerja kerasnya.

    Semoga kedepannya semakin sukses, amin 🙂

  3. Tulisan yang keren, Unclebowl. Sangat menikmati. Terlepas masih belum ngeh dengan apa visi misi RIS sekarang, pastinya rockfest ini telah berhasil menjadi salah satu yang terbesar dan berpengaruh -bukan hanya di Jawa Tengah- melainkan di Indonesia (termasuk secara tak langsung ikut mengkatrol status “metalhead” seorang Jokowi di masa-masa paling krusial dalam perkembangan karier politiknya). Yang lebih penting lagi, RIS sukses melontarkan Solo ke dalam peta musik cadas nasional seperti yang belum pernah terjadi pada dekade-dekade sebelumnya. RIS juga menjadi identitas serta kebanggaan anak-anak muda Solo yang menolak tunduk pada citra konservatif kotanya. Respek dan salut untuk kerja super kerasnya Unclebowl & seluruh tim Rock In Solo. Sebagai orang yang dulu sering mengorganisir gigs, saya paham sekali di bagian “keringat, darah & air mata” itu. Semoga farewell letter ini bukan sekaligus menandakan bergabungnya Unclebowl dengan divisi Agitasi & Propaganda The Strangers ranting Solo hehehe. Sukses terus di masa depan, brotherman!

    \m/\m/

  4. setiap fase kehidupan pasti ada awal dan akhir, ada masa2 kita sejalan dg keyakinan visi misi yg kita pahami dlm mengorganisir event atau apapun, tp akan datang juga masa rasa sepaham itu hilang dan itu lumrah biasa saja. yang penting rock in solo sudah mewarnai khalayak penikmat musik rock dg suguhan musik yg varuatip dan menjadi event yg cukup di nanti \m/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s