Home

Rio Tantomo: “Musik Juga Yang Menghancurkan Gue”

oleh Firman Prasetyo

 

Bajingan itu bernama Haryo Tantomo, akrab dipanggil Rio. Badannya ceking dengan rambut gondrong dan bulu muka serabutan. Sorot matanya yang terbingkai lensa minus menyimpan arogansi dalam porsi yang sesuai, seperti sorot mata Ahmad Dhani di jauh hari sebelum memutuskan gabung Akademi Pelawak Indonesia dengan mengambil peran sebagai calon Gubernur DKI. Arogansi sama yang tertranslasi di tulisan-tulisannya. Pernah menemukan kata ‘kontol’ yang ditulis terbalik di salah satu artikel di majalah musik nasional? Iya, dia yang menulisnya.

602369_10151021712969725_186516517_n

Rio menjadi pengisi perdana di Interscene selain karena saya pribadi memang kenal dengannya, sosoknya menarik untuk dikulik. Saya terakhir bertemu Rio sekitar 3 minggu yang lalu di sebuah bar di bilangan Kemang. Ia kini menjadi roadman untuk The Hydrant sembari sesekali menulis lepasan untuk berbagai media. “Semalem gue baru aja ngelarin satu artikel buat web film. Jarang-jarang gue nulis tentang film, terakhir di Trax tahun 2014 mungkin,” ujarnya.

Selepas pertemuan singkat tersebut, saya memutuskan untuk mewawancarainya. Jika dulu dia terbiasa mewawancarai, kini posisinya berubah. Saya paksa dia menjawab pertanyaan yang dikirimkan via surel dan WhatsApp. Meski benci dengan metode ini, tapi jarak dan waktu memisahkan kami. Apa boleh buat. Terpaksa teknologi turun tangan.   

Apa gue diselamatkan oleh musik?

Ya, jelas, tapi musik juga

yang menghancurkan gue.”

Rio yang saya kenal adalah manusia yang santai dan does not give a fuck. Cuek bebek. Selain berkutat di dunia jurnalistik musik, Rio juga adalah drummer di Aksiterror. Saya lalu menanyakan kabar band-nya itu. “Aksiterror seperti biasa baik, masih bisa latihan di studio minimal dua minggu sekali dan manggung tiga bulan sekali. Mungkin akan ada rilisan baru di akhir tahun ini, anak-anak lagi berkutat nulis lagu-lagu baru. Band ini sulit diprediksi, bahkan oleh orang di dalamnya sendiri,” jawab Rio. Silakan googling sendiri tentang Aksiterror, siapa tahu kamu penasaran dengan aksi Rio saat sedang melakukan KDSD (Kekerasan Dalam Set Drum).

Perbincangan lalu berlanjut. Tema obrolan pun melebar. Karena jawaban yang masuk ternyata panjang, maka saya memutuskan untuk memecah wawancara ini jadi dua bagian. Di bagian pertama, perbincangan didominasi oleh tema yang lebih umum. Sementara di bagian kedua, kami lebih banyak bicara tentang jurnalistik musik dan tetek bengeknya.

Enjoy! 

Apa kesibukan lo sekarang?

Kalau lagi nggak ada kerjaan ya gitu-gitu aja, palingan nyimeng terus nontonin film yang udah pernah gue tonton – judul asal aja gonta-ganti random kayak sekarang nih, lagi santai jawab wawancara lo sambil nonton Full Metal Jacket. Gue udah lebih dari lima kali mungkin nonton film itu. Atau nggak ya bengong-bengong aja, rebahan di kasur mind blowing, travelling without moving. Ini aja gue udah empat hari kali nggak keluar apartemen. Selebihnya palingan nge-roadman, modus ampuh buat jalan-jalan ketemu atau ngobrol sama orang. Lagi jarang main band juga soalnya,” jawabnya saat saya tanya soal kesibukannya sekarang.

Sebenernya akhir-akhir ini gue lagi suka mikir kalau gue itu sebenarnya terlalu malas. Penyakit Bowl, makanya belum bisa bikin buku di umur 30. Bangsat waktu gue makin menipis, brur.”          

Agak sulit mencari kisi-kisi hidup lo di sosmed karena lo cenderung pasif, even as a writer.

Nyari kisi-kisi jangan di sosmed, Bowl. Coba lo traktir gue empat botol bir, cukuplah itu bikin gue semi ngoceh.

(Jawabannya benar. Saya belum pernah mabuk bersama Rio. Satu-satunya sesi tidak-begitu-sadar yang pernah kami lalui bersama adalah di sebuah warung minum di area jalan Jaksa dua atau tiga tahun silam. Di malam di mana Rio ngoceh cukup banyak itu, bill minuman kami hampir mencapai tujuh digit. Jadi kalau dia bilang empat botol bir, itu hanya cukup untuk bahan tulisan dengan 100 karakter saja. Oya, satu lagi. demi Julius Caesar, jangan pernah menawari dia ganja. Kamu sudah diperingatkan.)

Lo memang nggak terlalu suka dengan sosmed atau gimana?

Tapi di sosmed dari dulu gue emang keseringan cuma jadi penonton, maksudnya jarang share atau update sesuatu tapi menyerap semua yang bertebaran di timeline. kalau gue lagi nulis sesuatu di Facebook atau Twitter berarti gue lagi kegitingan dan nggak tau mau ngelakuin apa.

Dan bener lo, gue orangnya keseringan cenderung pasif. Karakter yang jelek untuk jadi seorang penulis, lepasan pula yang harusnya banyak menebar jala di sosmed.

Jancuk! Tapi bener juga sih lo. Hahah..

Lo nggak akan nemuin hal penting yang bermanfaat di timeline gue. Gue juga lagi banyak menghapus temen di Facebook biar nggak keseringan pengen muntah tiap kali buka haha. Ya sosmed masih menyenangkan dan menghibur buat gue, nggak penting tapi penting. gue masih mengandalkan itu untuk tahu peredaran berita. Benar atau nggak benar beritanya berpulang ke kecerdasan masing-masing. Jadi, di depan gue laptop nyala, di depan laptop TV gue nyala. Saling menyelingi.

Walaupun ingin, tapi gue merasa belum cukup pintar untuk menghapuskan penggunaan sosmed, sama halnya juga gue belum terlalu pintar untuk bisa memaksimalkan penggunaannya, untuk cari duit misalnya atau membagi kebaikan terhadap sesama.

Asu. Ok, seberapa besar porsi musik di hidup lo?

Porsi musik di hidup gue sama dengan porsi korupsi buat pemerintah, sangat besar dan berpengaruh, juga membahagiakan dan menghancurkan.

Gue merasa ungkapan “nggak bisa hidup tanpa musik” itu agak berlebihan ya. Tapi gue juga sebenarnya agak susah kalo lama nggak bersinggungan dengan musik.

Gue pernah berkali-kali mencoba untuk total berhenti dengerin musik, tapi paling lama cuma bisa bertahan dua minggu. Itu juga udah gelisah parah tanpa satu nada atau secuil intro pun. Di hari terakhir sempet kepikiran apa rasanya ya OD Prozac hahaha. Jadinya cuma sedangkal itu.

Tapi itu juga jadi semacam terapi buat gue, karena musik itu lama-lama membosankan sebenarnya, begitu-begitu aja. Yang membuatnya terus menyenangkan adalah apa yang sedang lo rasakan ketika menulis atau mendengarkannya.

Nyokap gue sangat berpengaruh ke gue dalam soal musik. Gue kenal musik rock pertama kali dari beliau. Bisa ceritakan masa kecil lo dan musik?

Dari kecil gue selalu dididik untuk mengabdi pada negara.

Mengabdi pada negara, kayak nama gitarisnya Slank..

Bokap gue selalu nyuruh gue untuk nonton berita dan banyak baca, yang mana gue ikutin tapi ironinya dengan makin banyaknya gue nonton berita juga banyak baca, gue malah merasa ada yang janggal sama sistem negara dan dunia ini.

Latar belakang keluarga lo berpengaruh nggak ke kegemaran lo akan musik sekarang?

Keluarga gue konservatif. Gue inget dulu bokap pernah ngasih liat fotonya lagi manggung main bas ketika dia masih sekolah Taruna. Bokap gue tentara. Dia yang pertama beliin gue gitar tapi nggak pernah punya cara untuk mengajarkan anak laki-lakinya main gitar. Gue nggak masalah, gue bisa belajar sendiri. Dia juga yang beliin gue drum.

Gue juga nggak begitu cocok sama selera musik keluarga, hanya gue dan adik laki-laki gue yang bisa saling mengerti tentang musik, karena sama-sama menaruh perhatian besar ke musik. Gue berdua sering jamming bikin berisik rumah, dia main gitar. Otomatis nggak ada dari sisi orang tua yang mempengaruhi gue dalam musik kecuali ya perbedaan-perbedaan prinsip dengan mereka yang justru membentuk gue. 

Sampe akhirnya gue cari makan dari musik seperti sekarang ini, bokap dan nyokap gue cuma bisa geleng-geleng kepala, ‘darimana benih anak ini berasal ya?’. Gue sendiri juga nggak ngerti.

Waktu SMA gue pernah bikin teori ngawur, takdir dan pemberontakan pertama setiap anak lelaki pada dunia adalah membelot pada nilai-nilai yang dianut Bapaknya. Karena itu yang gue alami, hingga akhirnya gue merasa diselamatkan oleh musik (punk rock pada waktu itu). Apa sejarah pemberontakan lo di keluarga?

Pengalaman gue adalah, semakin seorang Ayah memaksakan dunianya kepada anaknya, semakin besar pula penolakan yang akan dilakukan oleh anaknya. Dari awal-awal cuma memendam di hati karena takut, terus melawan diam-diam karena masih hormat dan menghargai sampai akhirnya frontal dan bodo amat, karena hidup terlalu menarik untuk terus mengikuti omongan orang tua.

Mereka khawatir dengan apa yang gue lakukan. Iya gue tahu, apa yang gue pilih untuk lakukan memang mengkhawatirkan, itu wajar dan sudah banyak contohnya bahkan dari kalangan keluarga gue sendiri.

Tapi kemudian gue menemukan kalimat ini, ‘Who is the happier man, he who has braved the storm of life and lived or he who has stayed securely on shore and merely existed?’.

Orang tua gue akhirnya cuma geleng-geleng kepala lagi, ‘anak ini nggak bisa diatur.’

Apakah lo juga diselamatkan oleh musik?

Apa gue diselamatkan oleh musik? Ya, jelas, tapi musik juga yang menghancurkan gue.

Sebagai anak era lama, ada yang lo rindukan nggak dari kancah musik lokal?

Gue bukan orang era lama.

Gimana juga lo kan udah tua sekarang itungannya.

Gue cukup beruntung untuk bisa bilang kalau gue rindu dengan kegilaan Lukman Laksmana di era Waiting Room. Umur gue 15 waktu ngelihat dia telanjang bulat nyanyi di atas panggung.

Dari beberapa pengalaman gue nonton konser musik dalam 5 tahun terakhir, aksi panggung mayoritas band sekarang terhitung main aman dan gue merasa bosan. Nggak ada aksi-aksi panggung yang layak dikenang sepulang dari venue.

Maksud gue semangat kebangsatan itu. Musik rock ketika gue berusia 30an ini sudah terlalu positif, terlalu sopan dan malu-malu. Semua orang ingin jadi baik-baik sekarang. Nggak heran kalau akhirnya gue cepet bosan sama musik. Jarang yang berani kurang ajar dan bertindak dekaden. Bukan apa-apa, supaya lebih seimbang saja peradabannya.

Gue kangen nonton konser di mana gue bisa loncat masuk ke moshpit dan bonyok kena sikut atau telapak sepatu. Ada sih beberapa konser yang seru tapi jumlahnya sedikit sekali. Gue kangen nonton konser rock yang liar dan berbahaya.

Kalau lo bilang lo ingin dateng ke pertunjukan rock yang liar dan berbahaya, itu akan mustahil terjadi tanpa orang-orang yang benar-benar liar dan berbahaya. 

Siapa band yang lagi lo suka banget saat ini?

Lagi nggak ada band yang gue suka banget. Nggak tahu apa gue yang menyedihkan atau lo semua?

Kalau yang menarik perhatian ada, Tarrkam dari Jakarta; hardcore punk, Dead Kennedys, The Germs, teler murah. Nggak ada yang lebih membahayakan daripada orang yang teler murah, tendensinya bisa membuat perilaku mengalami kemunduran menuju jaman kegelapan.

Kemarin gue juga baru nonton gig Poison Nova. Itu pertama kalinya gue lihat mereka, gila, ketat, black metal tanpa harus bau dupa dan cemong-cemong mayat. Meninggalkan sisi ortodok genre itu yang kaku-satanik. Gigi gue nggak bisa berhenti gemeretakan di sepanjang pertunjukan mereka, terkesima.

Bersambung ke Part 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s