Home

Press Release

Record Store Day Solo 2016

Lokananta

Minggu, 17 April 2016

oleh Firman Prasetyo

“The fact still remains that the record industry is constantly changing with new advances in multimedia and internet access for downloading music. With that being said, it is imperative that independent retailers continue to thrive so that people can still walk into a record store and buy CDs.”Brent Smith (Shinedown)

Pernyataan dari vokalis Shinedown tersebut bisa jadi merupakan kalimat yang paling mewakili kondisi termutakhir di dunia rekaman musik saat ini. Industri rekaman terus berubah bentuk guna menyesuaikan jaman. Sementara itu, rilisan fisik masih tetap diproduksi dan dinikmati oleh konsumen. RIAA (Recording Industry Association of America) melansir data penjualan piringan hitam yang meningkat 32% sehingga menyajikan keuntungan sebesar US$ 416 juta pada tahun 2015. Angka tertinggi yang pernah terjadi sejak tahun 1988 di industri rekaman Amerika Serikat.

Sementara di sisi lain, layanan music streaming sedang mewabah akhir-akhir. Salah satu raksasa di bidang tersebut, Spotify, baru saja membuka layanannya untuk pasar Indonesia. Sebelumnya, layanan sejenis seperti Deezer dan Joox sudah lebih dulu bisa diakses untuk pasar domestik.  Spotify sendiri mengklaim mereka sudah memiliki 30 juta user di seluruh dunia. Dengan semakin banyaknya pilihan, keuntungan terbesar tentu saja jatuh ke tangan konsumen. Tinggal pilih saja mana yang disuka dan dirasa pas dengan selera pribadi.

Meski industri rekaman musik sudah berubah dengan banyaknya layanan musik berbasis internet, rilisan fisik masih memiliki penggemarnya sendiri. Salah satu event yang memfasilitasi mereka adalah Record Store Day, sebuah gelaran tahunan yang sudah berjalan sejak 2008 di Amerika Serikat dan baru masuk Indonesia pada 2014 silam.

Solo termasuk ke dalam kota yang rutin menggelar Record Store Day sejak 2014. Dan di tahun ini, Solo tidak absen menyelenggarakan Record Store Day. Bertindak sebagai penyelenggara adalah  kolaborasi dari kolektif Alpha Omega dan Rambo Wadon Enterprise dengan dukungan penuh dari pihak Lokananta sebagai pemilik lokasi penyelenggaraan acara. Waktu pelaksanaan jatuh pada hari Minggu, 17 April 2016 mulai pukul 10.00 – 22.00 WIB. Seperti yang selalu tersaji tiap tahun, Record Store Day Solo 2016 akan diisi oleh vendor-vendor musik seperti Lokananta, Demajors Solo, Alpha Omega, Rambo Wadon, Solonesia, Squank, Intestinal Vomit, Fiend, Sound Bomb Records, Crossroad Records, Suabakar Records dan Alim Rugi. Artwork poster Record Store Day Solo 2016 didesain oleh kolektif Hammerlocks.

Selain itu, akan ada juga sesi talkshow dalam bentuk Lokanantalks #1 yang mengambil tema besar “Digitalisasi Rekaman Fisik”. Ada pun para narasumbernya adalah Dewadji Ratriarkha (Djiwo), Rytroc, Titik Sugiyanti (Lokananta), Sinom Jalu (Crossroad Records & Soloensis/Werewolf) dengan Uncle Bowl bertindak sebagai moderator. Talkshow ini akan digelar pukul 15.00 – 17.30 WIB.

Di malam harinya, beberapa band Solo yang juga merilis album bertepatan dengan Record Store Day 2016 ganti unjuk gigi. Mereka adalah RJML feat Gaute Granli & Thore Warland (Norwegia), Depresi Mayor, The Sign Of Doom, Klavikor, Furious Young dan Suabakar.

Untuk info lebih lanjut, silahkan hubungi Dondiet di +62 857-2530-3737 dan Fran di +6287736076440

b25dd833-337d-41dd-9da2-3ce89cae3696

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s