Home

Rio Tantomo: “Musik Juga Yang Menghancurkan Gue” – Part 2

oleh Firman Prasetyo

Saya masih ingat momen itu dengan jelas. Suatu pagi, saya sedang duduk di ruang tengah rumah, bersiap berangkat sekolah. Saya kelas 3 SD waktu itu kalau tidak salah. Almarhum Mamah sedang menyiapkan sarapan sambil melakukan aktivitas hariannya yang tidak pernah absen: mendengarkan radio. Di stasiun radio favorit beliau, ’Twist And Shout’-nya The Beatles sedang terputar. Itu salah satu milestone di hidup saya, di mana semenjak itu saya bersumpah setia pada Iblis untuk mengikuti semua jejak musikalnya. Sebuah momen ‘I will sell my soul for rock n roll’. Saya penasaran dengan momen yang sama di hidup Rio. “Gue nggak pernah menjual jiwa gue, gue hanya melakukan apa yang ingin gue lakukan – dan apa yang Editor katakan,”  jawabnya.

Di Part 2 ini, saya lebih banyak ngobrol dengan Rio soal dunia jurnalistik musik. Tentang bagaimana dia pertama kali terjun dan memandang profesinya. Saya sempat bertanya soal mana yang lebih nyaman untuknya, bermain musik atau menulis musik. Jawabannya sederhana saja, “Apa yang lo maksud dengan kenyamanan?

Rio dikenal berkat tulisannya yang tidak lazim. Gaya menulisnya khas. Lugas lagi brengsek. Struktur kata-katanya berbelit dengan selipan beberapa istilah yang tidak umum tapi cerdas. Beberapa menyebut gaya menulisnya sebagai ‘Gonzo Journalism’. Tak mudah mencernanya. Tapi sekali sudah masuk, demi Tuhan, hati-hati dengan efek sampingnya. Tulisannya bisa jadi candu.

“Kenapa harus menyesal

ketika lo bisa bertahan hidup

dari apa yang lo mau?”

Tulisannya dulu sempat tercetak di Trax Magz, sebelum ia akhirnya tidak lagi bergabung dengan Trax. “Gue lebih banyak kerja dari kamar. Kalau lagi pengen, terutama kalau lagi ada tenggat waktu, gue biasanya akan langsung nulis lagi begitu bangun.,” jawabnya saat saya tanya tentang kesibukannya sekarang.

Saat di Trax pula, salah satu artikelnya menelanjangi Burgerkill kala Rio mengintili mereka di antara rangkaian tur. Konon sempat ada ketegangan di antara kedua pihak setelah tulisannya terbit. “Masalah Burgerkill, itu udah tiga tahun lalu. Mereka cuma kaget saja karena belum pernah ditulis segamblang itu. Selebihnya sudah baik-baik antara gue sama mereka,” jelas Rio.

Selain itu, di bagian ini juga sedikit membicarakan hobi yang ternyata sama-sama kami sukai: membaca. Dua tahun lalu, Rio sempat singgah sejenak di rumah saya. Di sana, dia menemukan koleksi novel Mario Puzo saya. “Sebenarnya gue lagi nyari penulis lokal yang bagus, gue belum banyak nemuin. Gue haus akan literatur Indonesia yang mampu memuaskan selera gue. Mungkin lo bisa memberi gue saran, Bowl. Siapa, ya? Masa nggak ada, sih?” tanyanya saat saya ajak ngobrol soal buku.

Enny Arrow, jawab saya dalam hati. 

Bisa ceritakan sejarah lo di dunia jurnalistik musik?

Ide awalnya adalah kerja kantoran, cari duit tapi tidak mengganggu kegiatan main musik gue saat itu.

Apakah ada kecocokan dengan background pendidikan atau lo nyemplung dengan tidak sengaja? Dan apakah ini juga memang cita-cita lo sejak kecil?

Ya, jadi wartawan musik sehingga semuanya mengerucut ke bidang musik. Lagian saat itu tahun 2008 ketika gue lulus kuliah, minat untuk jadi pengacara tiba-tiba hilang.

Latar belakangnya lagi adalah balas dendam. Waktu kuliah dulu itu gue sering banget ketinggalan nonton konser akibat bokek, nah pas jadi wartawan gue malah dibayar untuk nonton musik. Dapat rilisan album gratis pula untuk diresensi. Selain itu juga ada banyak compliment makan, alkohol, gadget, voucher dan liputan luar kota dan luar negeri yang semuanya gratis. Balas dendam kemiskinan tuntas sudah.

Walaupun sebelumnya gue sudah sempat nulis untuk beberapa zine, waktu pertama kali akhirnya jadi wartawan gue nggak tahu sebenernya bisa nulis atau nggak, learning by doing, yang penting apa yang ada di kepala lo tumpahin semuanya, bagus atau buruk ya harus bagus gimana pun caranya.

Siapa saja yang mempengaruhi lo dalam menulis?

Semua orang di Beat generation, Hunter S. Thompson dan Goenawan Mohamad.

Tapi gue juga sadar ini, ‘setiap penulis bagus ikut memberi benih kepada setiap penulis buruk’, jadi ya…

Gimana rasanya bekerja sebagai seorang jurnalis musik?

Menyenangkan batin.

Lo dikenal punya gaya tulisan yang khas. Some say it’s Gonzo Journalism. Berapa lama proses yang harus lo lewati hingga akhirnya lo sampai di tahap sekarang ini?

Gue menulis dari tahun 2007, ya berarti sudah sembilan tahun. Baru sebentar ya ternyata haha.

Apakah ada dan kalau ada, seberapa besar pengaruh substansi ilegal di proses kreatif penulisan lo?

Nggak ada substansi ilegal dalam hidup gue, semua substansi itu legal selama dia bisa membantu lo untuk bekerja.

Selain gaya yang khas, tulisan lo juga dikenal berhuruf tajam. Pernah mendapat kesulitan, misal, ditantang berantem karena tulisan lo?

Belum ada yang berani ngajak gue berantem gara-gara apa yang gue tulis, karena tulisan gue memang tidak setajam itu, dalam artian mengada-ada dan menipu. Gue hanya menulis apa yang gue lihat dan gue rasakan, itu aja, dan gue cukup berhati-hati dan tahu diri selama ini.

Ada nggak mimpi lo yang terwujud sewaktu lo bekerja sebagai jurnalis musik?

Dalam konteks jurnalis belum ada. Paling ya gue bisa menghidupi diri dari musik, itu mimpi basic gue yang sudah terwujud.

Menjadi jurnalis musik dan secara otomatis berada di lingkar dalam kancah musik domestik, lo pernah ngerasa jadi elitis nggak? Like, i used to listen to them when they were underground. Sekarang mereka udah terkenal, jadi disukai mayoritas dan gue males dengerin lagi?

Secara sadar sih nggak. Nggak tahu kalau lagi nggak sadar. Menjadi elitis itu keren sekaligus menyebalkan. Band-band yang sudah nggak gue dengarkan lagi itu biasanya karena gue bosan sama mereka. itu aja. Mudah buat gue untuk bosan soalnya.

Gue beranggapan kalau seorang penulis adalah juga seorang pembaca buku. Lo baca buku juga nggak? Kalau iya, apa buku terakhir yang lo baca dan apa buku dan pengarang favorit lo sepanjang zaman? 

Keseringan yang dibaca adalah novel. Sekarang gue baru mulai baca A Happy Death dari Albert Camus. Semua orang yang gue sebut di atas tadi beserta semua karangannya adalah favorit gue sepanjang hayat.

Yang lainnya mungkin Notes From The Underground-nya Dostoyesvsky, Dead Souls-nya Gogol, Satanic Verse-nya Salman Rushdie, Tropic Of Cancer-nya Henry Miller, Life-nya Keith Richards, standarlah yang begitu-begitu. Oh, satu yang keren Fever Pitch-nya Nick Hornby, itu otobiografi dia sebagai fans Arsenal. Gue suka bagaimana dia meromantisme sepakbola di situ.

Lo pernah menyesal nggak dengan jalan hidup yang lo pilih sekarang?

Kenapa harus menyesal ketika lo bisa bertahan hidup dari apa yang lo mau?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s