Home

Kamerad Edmond: Metalhead Di Balik Lensa Film.

oleh Firman Prasetyo
(Foto-foto oleh Kamerad Edmond dan dokumentasi Anarcho Brothers)

Gue korupsi dana pendidikan anak buat bikin film dokumenter ini,” ujar Edmond Waworuntu sewaktu obrolan menyerempet bab finansial produksi sebuah film dokumenter yang didanainya sendiri. Saya memanggilnya dengan Bang Edmond, tapi ia lebih memilih dipanggil dengan sebutan Kamerad Edmond. Seorang sutradara yang juga kolektor rokok kretek sekaligus metalhead.

10402505_10152251822404219_4435496011105146255_n

Kamerad Edmond (kiri) dengan senyum a la viderocker.

Saat itu Kamerad Edmond sedang berada di Solo untuk proses pengambilan gambar Rock In Solo 2013. Kami sedang berbincang di sebuah halaman rumah yang juga difungsikan sebagai kantor di bilangan Kartopuran, Solo. Saya masih ingat jelas kalimat pembuka yang sialan itu. Meski konteksnya bercanda, saya menanggapinya dengan senyum kecut. Profesi yang dilakoninya tidak mudah pun murah.  

Perkenalan pertama saya dengan Kamerad Edmond terjadi di bandara Solo tahun 2011 silam. Beberapa bulan sebelumnya, saya terlibat perbincangan serius bersama rekan kerjanya kala itu, Andibachtiar Yusuf atau yang biasa dipanggil Ucup di sebuah mall di Jakarta Selatan. Ucup menawarkan sebuah kerjasama antara rumah produksinya, Bogalakon Pictures, dengan Rock In Solo untuk memproduksi sebuah film dokumenter.  Kerjasama disetujui. Kamerad Edmond didaulat sebagai sutradara dan berangkat lebih awal ke Solo untuk proses pengambilan gambar. Sejak saat itu, terjalin hubungan khusus antara Kamerad Edmond dengan kota Solo. Darah Manado-nya yang kental dengan Cap Tikus mulai tercemar Ciu Bekonang.

Kalau pengertian film/sinema adalah cinematographie yang berasal dari kata cinema (gerak), tho/phytos (cahaya), dan graphie/grhap (tulisan, gambar, citra) maka Edmond memasukkan unsur keempat di karyanya: musik rock. Campuran kesemuanya menjadi sebuah rock documentary, yang juga lazim dipersingkat menjadi rockumenter. Metalhead berusia 40 tahun yang mengaku hobi membaca, bercocok tanam dan membantu orang tua itu mendirikan kolektif Anarcho Brothers bersama seorang temannya dan menyebut diri mereka sebagai videorockers. Karya pertama di filmografinya adalah rockumenter tentang Superglad yang rilis tahun 2012 berjudul Rock Together.

Anarcho

Kamerad Edmond dengan partner-in-crime sekaligus rekan di Anarcho Brothers, Abdul Haris Kartasumitra.

Anarcho Brothers itu dideklarasikan Maret 2012 di Glodok, samping lapak pusat DVD bajakan oleh gue dan Abdul Haris Kartasumitra. Bentuknya sampe sekarang kita berdua nggak tau Anarcho Brothers itu apaan, nggak ada SK dari Menteri atau Deperindag, jadi bentuknya cair kayak komunitas aja. Terus ada kawan-kawan yang bergabung atau merasa aspirasi mereka tersalurkan lewat Anarcho Brothers. Kalo buka channel Anarcho Brothers di Youtube ada nama-nama kontributor yang asalnya dari berbagai tempat di Indonesia,” jelas El Kamerad soal kolektif yang digagasnya itu.

Meski masih balita, Anarcho Brothers sudah memiliki curriculum vitae yang cukup panjang. salah satunya adalah videoklip Roxx – Jauh Dari Tuhan. Cek kanal YouTube mereka di sini.

10520683_396216230530714_5038060360656225482_n

El Kamerad bersama band black metal asal Kediri, Immortal Rites. Salah satu proyek Anarcho Brothers adalah dokumentasi black metal Nusantara.

Saya lalu memintanya untuk menceritakan pengalaman selama menggarap rockumenter Rock In Solo. “Itu (rockumenter Rock In Solo) adalah awal yang membuka ide-ide video Anarcho Brothers selanjutnya terhadap scene ini. Disamping itu bujet konsumsi bisa banyak ditekan (tertawa). Yang jelas gue akhirnya jadi lebih banyak tahu scene Solo daripada Jakarta dan kemampuan berbahasa asing gue tambah fasih,” jawabnya setengah bercanda.

Meski penampilannya sekilas terkesan serius dan kaku, Kamerad Edmond sesungguhnya pribadi yang humoris. Senyumnya selalu diobral sekaligus hobi bercanda. Ia kerap kali menceritakan adegan dan ide-ide absurd yang melintas di kepalanya, mungkin itu kebiasannya sebagai sutradara yang tanpa sadar terbawa ke kehidupan nyata.

“..bisa jadi gue adalah

sutradara rockumenter pertama

yang memperlihatkan

alat kelamin punkrocker

di filmnya.

Saya lalu memutuskan untuk mewawancarainya untuk rubrik Interscene. Dengan harapan obrolan absurd ini bisa memberikan tambahan pengetahuan bagi mereka penggemar musik dan film atau yang tertarik untuk menekuni dunia sinematografi. Kenapa absurd? Karena saya sempat mendengar selentingan kalau sang Kamerad ini tidak bisa naik motor.

“Lo udah bisa naik motor, Bang?”

“Gue itu punya emblem 1% di atas saku kiri.”

Keseharian lo sekarang apa saja?

Sekarang gue lagi mempersiapkan diri untuk pulang kampung, mempersiapkan diri menjadi pekerja agraria. Gue merasa sudah cukup tinggal di Jakarta bersama kamera dan mesin editing.

Bisa cerita pertama kali lo kerja di film?

Pertama kali kenal film itu lewat belajar animasi gambar lebih dulu, karena basic pendidikannya seni rupa. Itu sekitar tahun 1998. Negara lagi huru-hara, gue yang sebagai layout artist malah nyorat-nyoret karakter kuda laut.

Seinget gue, lo nggak langsung jadi sutradara kan ya, kenapa milih jadi sutradara?

Kalo di film fiksi gue punya ukuran kemampuan pribadi, jadi lebih milih jadi Production Designer daripada jadi sutradara trus filmnya jadi aneh, kasihan yang modalin. Sebenarnya gue lebih banyak bantuin teater juga dibanding film.

Untuk dokumenter, apalagi musik gue harus jadi sutradaranya, karena ide dan visual dari gue semua dan gue lebih enjoy melihat gambar sebagai tempo – ritme – distorsi.

Kata sutradara itu juga kadang-kadang bikin gue jengah, filmmaker atau videomaker terlalu hipster, makanya gue menyebut kami sebagai videorocker.

Dari semua genre, kenapa memilih rockumenter?

Karena bisa dijual. Setidaknya fans dari band atau scene tersebut bakal nonton dan membeli filmnya baik fisik maupun versi digital. Semua film Anarcho Brothers dijual fisik dan digital kecuali Pamurba Yatmaka yang nggak ada versi DVD-nya. Untuk digital/online Anarcho Brothers bekerja sama dengan Kineria.com dan buttonijo.com.

Ada duitnya nggak sih rockumenter ini?

Di beberapa workshop film paling pertama yang gue sampaikan ke peserta adalah film itu nggak masuk 9 bahan pokok, kebutuhan tertier pun nggak. Jadi jangan berharap jadi kaya di film apalagi dokumenter, kecuali kalo membuat film-film pesenan LSM-NGO nah itu banyak duitnya.

Jadi sutradara rockumenter bisa menghidupi lo dan keluarga?

Jadi profesi sutradara dokumenter itu lumayan buat jajan somay, untuk menghidupi mending usaha palawija.

Keluarga lo pernah ada yg bermasalah nggak dengan profesi lo?

Nggak sih, paling komplain kalo lihat visual CD, kaos dan video black metal gue, nggak ada yang mendidik anak menjadi berguna bagi bangsa, negara dan agamanya.

Pasar penonton film rockumenter di Indonesia itu sebenernya gimana?

Penonton rockumenter itu seharusnya sebanyak penonton gigs itu sendiri. Karena pastinya mereka akan mencari info tentang scene, band dan genre.

Beberapa band mulai rilis dokumenter tapi hitungannya masih sedikit, itu kenapa ya? Nggak ada yg tertarik bikin, nggak menjual atau gimana?

Dua tahun belakangan mulai banyak yang bikin, White Shoes And The Couples Company juga lagi bikin, ada juga beberapa konser yang dijadikan DVD.

Lo bisa disebut sebagai sutradara film rockumenter pertama di Indonesia nggak sih apa ada sutradara lain sebelum lo?

Ya nggak lah, masih banyak yang tua-tua cuma saat itu rockumenter belum sepesat sekarang. Film Kantata Takwa dari Eros Djarot dan Gotot Prakosa atau Konser Deep Purple di Jakarta 1975 itu bisa dibilang rockumenter awal yang tetap keren sampe sekarang.

Tapi bisa jadi gue adalah sutradara rockumenter pertama yang memperlihatkan alat kelamin punkrocker di filmnya.

Apa saja yg udah lo dapetin karena kerja sebagai sutradara? Pencapaian tertinggi lo apa sejauh ini?

Gue itu males ngurus film ke festival, biasanya produser yang kerjain pendaftarannya, jadi pencapaian kalo dilihat dari ukuran award memang belum terbukti. Rockumenter Superglad pernah jadi nominasi Dokumenter Panjang di FFI yang kalo menang pun pasti aneh, jadi film dokumenter yang sangat tidak mendidik yang pernah meraih Citra.

Mungkin karena nggak ada tendensi apa-apa gue cukup puas kalo ada yang nonton aja, kayak Pamurba Yatmaka gue cukup senang saat ada yang selesai nonton dan komentarnya, ‘filmnya serem banget bikin merinding..’

Untuk jumlah penonton, saingan rockumentary itu cuma dokumenter berlaltar pembantaian penumpasan PKI. Makanya lagi cari info kali aja ada pembantaian metalhead kiri di tahun 60/70-an, pasti laku keras.

Seberapa pentingnya dokumentasi (foto/video) buat musisi/band?

Gue melihatnya malah bukan untuk band, tapi untuk penikmat musik di masa depan karena akses terhadap arsip sejarah musik bisa dengan mudah ditemukan. Apalagi arsip sekarang bentuknya digital, cloud. So open your eyes look up to the skies and see, semudah itu.

Rockumenter pertama lo Superglad kan ya? Ceritain proses pembuatannya dong.

Rockumentary Superglad kayak anak pertama, lahirinnya deg-degan belum pengalaman, pas mulai start syuting gue sempet berpikir kenapa sampe terjebak di antara orang brengsek ini. Seterusnya menjadi perjalanan nan asoy.

Salah satu hal yang sulit adalah melepaskan diri dari ruangan perjamuan Giox sedangkan gue bukan penggemar alkohol, tapi mereka memang orang-orang yang toleran terhadap vegan.

Ada cerita menarik apa di belakangnya?

Justru sekarang ini yang menarik bukan dibalik proses pembuatannya, tapi apa yang harus diceritakan selanjutnya, karena ternyata babad Superglad masih berlanjut drama dan tragedinya. Gue sempet ngobrol sama Allan Soebakir (Sinema Pinggiran) untuk bikin sequel rockumenter Superglad. Tunggu aja deh, semoga Superglad bisa memberikan banyak drama lagi ke depan.

Adzan Metal itu pernah ada yg menghujat nggak sih? Penasaran gue (tertawa).

Video itu dibikin spontan ketika cek footage Rock In Solo 2012, ada gambar penonton sholat maghrib dan kayaknya asik buat bikin video Adzan Maghrib kayak di TV itu. Muadzinnya anak magang di AB lulusan pesantren dan mantan juara MTQ.

Yang berpendapat bahwa video itu sesat dan menghina Islam justru banyak dari pemirsa asal Malaysia, sedangkan dari Amerika menganggap video ini sesat dan tidak sesuai dengan ukuwah metaliyah, masa metal sholat?

Untuk metalheads Indonesia malah banyak yang merasa bangga dan mendukung video ini. Sebagian besar sih metalheads Satu Jari. Gue berharap ada TV yang berani mengadopsi video Adzan Metal sebagai video default  adzan Maghrib.

Apa pengorbanan terbesar yang udah lo lakukan buat menjadi sutradara film rockumenter sejauh ini?

Lebay ah pertanyaannya…kayak acara Kick Andy aja. Nggak perlu berkorban lah, dunia musik itu enjoy aja.

Berkorban itu cukup dengan kambing, domba atau sapi. Itu pun kalo mampu.

Ada nggak film terjelek yang pernah lo tonton tapi saking jeleknya lo malah jadi terhibur dan suka?

Azrax: Melawan Sindikat Perdagangan Wanita. Bukan jelek sih tapi ini film kinky yang bermetamorfosis menjadi cvlt (dengan ‘v’).

Gue nonton dari nyebut “fuck – what – the!” hingga akhirnya mendapat pencerahan bahwa bikin film itu musti nekat dan ga perlu jaim, apalagi kalo punya duitnya, ga usah filosofis lah, bioskop bukan warkop.

Sutradara favorit?

Sam Dunn pastinya adalah yang memperkenalkan bahwa metal sangat menarik untuk dijadikan film. Cameron Crowe mengingatkan kita bahwa ternyata tiap event kehidupan ada soundtracknya. Martin Scorsese, gue tambah kagum ketika Marty merambah ke dokumenter musik baik sebagai sutradara maupun produser.

Lo tumbuh besar di Manado kan ya? Ceritain dong pengalaman lo menjadi seorang metalhead di era itu.

Karena berada di penghujung era glamrock dan hair metal maka tampilan saat itu adalah tampilan yang paling memalukan. Sori gue ga bisa menampilkan fotonya. Peristiwa yang menarik adalah ketika thrash, speedmetal, grindcore dan deathmetal mulai masuk sekitar awal 90-an, ada acara pembakaran kaset-kaset metal karena dianggap sesat oleh aktivis gereja.

Era itu informasi minim, internet masih kategori klenik, sementara majalah HAI mulai kemayu. Berita metal musti tunggu selundupan dari tanah Jawa. Sempet beli kaset cuma modal liat cover yang paling sangar, jadi semacam beli metal dalam karung.

Hasilnya gue bisa mendengarkan Morbid Angel, Entombed, Suffocation, Death SS (baru inget mixing-nya ternyata acakadut), Carcass, rilisan-rilisan Roadrunner, Earache dan lainnya.

Masih suka metal sekarang?

Yaialah!  Playlist gue tiap pagi pasti band-band sangar Skandinavia.

..The Cardigans, Roxette, Ace of Base.

Jadi sebenernya lo anak skena musik apa skena film? (tertawa)

Gue tuh sebenarnya adalah musisi berbakat (muke looo…) Tapi karena tingkat kegagalan di dunia musik itu sangat tinggi, makanya gue milih jadi videorocker dan support kawan-kawan musik daripada jadi kritikus.

Gue inget di film CBGB ada dialog yang kira-kira ‘..kritikus musik sebenarnya adalah musisi yang gagal.’

Gue suka dengan dinamika dan sejarah musik Indonesia dan merekam lewat video adalah media yang gue pilih disamping blog, foto atau buku.

Di skena film ada polisi skenanya nggak sih?

Kalo gue lihat sih nggak ada itu pulisi skena di film. Film itu sejenis anarcho, anti dengan berbagai bentuk ke-pulisi-an, kalo preman skena film banyak, tergantung afiliasi tongkrongan cafe dan komunitasnya.

Kalo di musik ada ‘gogon’, gosip-gosip underground, di film juga ada gosip-gosip behind the scene.

Upcoming project untuk Anarcho Brothers?

Untuk proyek berikut ada beberapa konten black metal, ada juga 3 video konser yang belum selesai. Yang paling update adalah diajak untuk membuat sebuah dokumenter sebuah band HC DKI dan sebuah label mayor. Tapi itu masih gosip-gosip behind the scene.

WTF lah…

Ngomongin sedikit soal proyek dengan Djiwo. Dari semua subgenre metal yg ada di Indonesia, kenapa milih black metal dan Djiwo?

Gue selalu tertantang untuk merespon secara video apa yang dihasilkan Djiwo. Djiwo itu punya konsep yang matang tentang Metal Nusantara. Secara visual, musik, lirik maupun sisi spiritual ada catatan ide dan riset dibaliknya.

Djiwo itu mampu membawa black metal itu lebih lebar dari sekedar musik itu sendiri, menjadi kajian budaya, spiritual, seni rupa, sejarah, sastra bahkan fashion.

Menurut lo, mas Djiwo itu gimana orangnya?

Djiwo itu misterius, di skena Solo sendiri sudah menganggapnya urban legend.

Lo pernah takut nggak sih sama dia?

Awalnya gue biasa aja ketemu Djiwo, sampai suatu saat ada saksi mata Firman P. dan beberapa koleganya mengatakan kalo Djiwo itu bisa tau apa yang kita obrolin tentangnya dan bisa berada di beberapa tempat dalam satu waktu. (“Sori mas Dji,” – Edmond)

Siapa musisi/band Indonesia yang pengen lo buat filmnya? 

Rhoma Irama dan Gideon Tengker vs Jopie Item.

Lo kan sempet curhat colongan nih kalo belum tenar juga padahal udah lama bikin film (tertawa), menurut lo kenapa tuh?

Mungkin gue dianggap Voldemort: “Dia yang jangan sampai disebut” atau Gandalf: “Pas butuh ngilang ga tau ke mana”. Makanya ada rencana juga untuk banting setir bikin one-man-band depressive drone metal yang misterius biar makin nggak jelas sekalian.

Ada pesan/tips/saran buat yang ingin meneruskan jejak lo sebagai sutradara rockumenter?

Don’t follow me, i’m lost too. Mumpung belum sakit-sakitan jangan dulu tobat.

Filmografi:

DVD Superglad

Superglad – Rock Together (2012, dokumenter)

 

DVD RIS 2011

Rock In Solo 2011 – Heritage Metal Fest (2012, dokumenter)

 

COVER RIS 2012 depan

Rock In Solo 2012 – The Return (2013, dokumenter/video review)

 

Poster-PYCB_in

Pamurba Yatmaka Cakra Bhirawa (2015, video guide/eksperimental)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s